"Where Faith Meets Future: Empowering the Next Generation of Leaders."

PERJALANAN TADABBUR ALAM

Di bawah rindangnya pepohonan dan suara alam yang menenangkan, kegiatan tadabur alam bukan sekadar perjalanan menyusuri hutan, melainkan juga perjalanan untuk merenungi kebesaran ciptaan Tuhan. Setiap hembusan angin, gemericik air, dan hijaunya alam menghadirkan pelajaran tentang rasa syukur, kebersamaan, serta pentingnya menjaga alam sebagai anugerah yang telah diberikan kepada manusia.

Kamis (14/05), para santriwan dan santriwati diajak untuk mengikuti kegiatan "Perjalanan Tadabur Alam" dengan tema Bersama dalam Ukhuwah, Ceria dalam Kebersamaan. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela daun, menciptakan bayangan yang menari di atas tanah yang masih basah oleh embun. Sesekali terdengar suara tawa santriwan dan santriwati yang bercampur dengan nyanyian burung dari kejauhan.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya mengisi hari libur dengan aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Di tengah rutinitas belajar yang padat, tadabur alam menjadi ruang bagi para santriwan dan santriwati untuk melepas penat serta menghilangkan kejenuhan. Alam dijadikan tempat belajar yang berbeda, menghadirkan suasana segar yang tidak ditemukan di dalam kelas.

Dengan membawa perlengkapan sederhana, mereka berjalan bersama menyusuri jalur setapak di kawasan hutan. Di sela perjalanan, para pembimbing mengajak santriwan dan santriwati untuk lebih dekat dengan alam melalui berbagai kegiatan ringan dan reflektif. Mereka diajak memperhatikan keindahan pepohonan dan mendengarkan suara alam.

Keceriaan semakin terasa ketika para santriwan dan santriwati berkumpul di area terbuka. Gelak tawa pecah saat permainan kebersamaan dimulai. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan membuat kegiatan tersebut terasa begitu berkesan. Tidak ada sekat antara satu dengan yang lain, semuanya larut dalam kebahagiaan sederhana bersama alam.

Lebih dari sekadar rekreasi, tadabur alam juga menjadi pengingat bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja. Alam mengajarkan ketenangan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Dari perjalanan itu, para santriwan dan santriwati tidak hanya membawa pulang pengalaman menyenangkan, tetapi juga kenangan tentang indahnya kebersamaan di tengah suasana alam yang asri.

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN DALAM BINGKAI KEBERSAMAAN

Langkah kaki para petugas upacara terdengar tegas, seolah menggema bersama denyut sejarah bangsa. Saat bendera merah putih perlahan naik ke puncak tiang, suasana hening seketika menyelimuti halaman Pondok Pesantren Ash-Shonhaji, Jalan Terusan Pesantren, Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Di balik keheningan itu, ada rasa haru yang menyeruak, sebuah kesadaran bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati lahir dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.

Pagi itu Senin (18/08), halaman sekolah dipenuhi oleh siswa, guru, dan staf yang mengenakan seragam rapi. Bendera merah putih menghiasi setiap sudut, menambah khidmat suasana. Meski matahari mulai terasa terik, tidak ada satu pun siswa yang mengeluh. Justru wajah mereka tampak bersemangat, mengikuti setiap prosesi dengan penuh penghormatan.

Koordinator pelaksana upacara Muhammad Fakhri Anshori menjelaskan, agenda upacara ini diadakan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme Cinta Tanah Air yang selalu beriringan dengan doktrin para Ulama Nusantara bahwa Hubbul Wathan minal imaan. Tak hanya itu, Fakhri juga menambahkan agenda ini juga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan pembentukan karakter para santri.

“menumbuhkan rasa kebersamaan yang timbul dari interaksi sosial antara sesama dan tentu saja kolaborasi yang terjalin yang keduanya merupakan bagian dari Twenty One Century Soft Skill yang harus dimiliki oleh manusia yang hidup pada saat ini. Dan juga untuk membentuk karakter para santri agar bagaimana mereka menghargai setiap perjuangan para pejuang dengan cara mengisi kegiatan dapat mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan dengan kegiatan yang positif,” jelas Fakhri.

Usai seluruh prosesi upacara selesai, halaman pesantren segera dipenuhi keceriaan. Berbagai lomba khas 17 Agustus digelar untuk menyemarakkan suasana. Tawa riang santri terdengar saat mereka beradu cepat dalam lomba Rangking 1, bersorak penuh semangat saat sepak terong dimainkan oleh dua tim, hingga antusiasme saat mengikuti lomba estafet air yang menguji kekompakan. Bukan hanya sekadar permainan, setiap lomba menjadi media untuk menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.

Di balik meriahnya rangkaian acara, tentu tidak lepas dari tantangan yang dihadapi panitia. Fakhri menuturkan bahwa koordinasi menjadi kendala utama dalam persiapan.

“terdapat beberapa tahap persiapan dimulai dari perencanaan yang sifatnya umum, lalu diadakan beberapa kali pertemuan yang membicarakan kegiatan ini agar lebih mengerucut sehingga dapat dieksekusi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tantangannya mungkin bagaimana cara mengakomodir antara santri yang tinggal di pondok dan santri yang tidak tinggal di pondok karena memang secara kebiasaan, latar belakang dan perlaku yang beragam,” ungkap Fakhri.

Meski begitu, ia menyimpan harapan besar agar kegiatan peringatan kemerdekaan bisa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Banyak harapan yang tentunya diinginkan di masa depan. Namun yang pasti dengan kegiatan ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa kita adalah generasi yang mencintai Negara yang berlandaskan pada ajaran para Ulama. Kedepannya mudah mudahan kegiatan ini bisa menjadi sebuah budaya yang mana agar menjadi sebuah nilai positif sehingga tertanam pada diri setiap santri tentang nilai-nilai Nasionalisme untuk kehidupannya di masa depan. Terakhir tentunya dengan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk penguatan kredibilitas dan integritas lembaga pendidikan yang dinaungi oleh Yayasan Abna Ashonhaji. Dengan acara ini membuktikan bahwa lembaga ini memiliki nilai yang baik dalam penimplementasian tujuan pendidikan yang tercantum baik dalam ajaran agama maupun pembukaan Undang Undang Dasar 1945,” pungkasnya.

MENUMBUHKAN CINTA LEWAT SIMULASI NYATA : MANASIK HAJI 2025

“Labbaikallahumma labbaik,, Labbaika laa syarika laka labbaik,, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika laka,” ucap seorang anak berseragam putih sambil melangkah pelan, mengikuti barisan teman-temannya yang tengah mengitari replika Ka’bah. Di bawah terik matahari pagi, langkah-langkah kecil itu bukan sekedar gerakan seremonial, melainkan bagian dari latihan spiritual. Dengan mata yang berbinar dan semangat menirukan tata cara ibadah haji, anak-anak itu belajar lebih dari sekedar latihan semata, melainkan mereka tengah menapaki makna ketaatan dan kebersamaan sejak dini.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (31/07) di Lapangan Sekolah Ash-Shonhaji, Jalan Terusan Pesantren No 92, Sukamiskin, Arcamanik, Kota Bandung. Koordinator kegiatan manasik haji sekaligus salah satu pengajar di SMP IBS Ash-Shonhaji, Aldika Fauzan Adhima mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan para peserta memahami bagaimana tata cara melakukan Haji & Umroh.

Aldika juga menjelaskan bahwa kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama pendalaman teori dan sesi kedua praktek.

“Kegiatan Manasik Haji ini dilakukan dengan dua sesi, sesi pertama yakni sesi pendalaman teori terkait fiqih ibadah haji dan umrah, kemudian dilanjutkan ke sesi ke dua yaitu praktik manasik haji itu sendiri, dimulai dari tawaf, sai, melempar jumrah, wuquf di arafah, hingga mabit di muzdalifah dan mina,” jelasnya.

Para peserta pun terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan acara ini. Salah satu peserta dari siswa SMP IBS Ash-Shonhaji, Diaz Arrezky Syahputra mengaku senang bisa mengikuti kegiatan manasik haji ini.

“Aku senang sekali bisa ikut manasik haji ini. Aku jadi tahu urutannya dari mulai niat sampai melempar jumrah,” ujar Diaz dengan senyum lebar.

Semangat seperti yang ditunjukkan Diaz juga tampak dari peserta lainnya. Meski cuaca cukup terik, tidak sedikit dari mereka yang tetap serius mengikuti setiap tahapan ibadah. Beberapa guru bahkan terlihat mendampingi dan membimbing siswa-siswi yang kebingungan saat melakukan tahapan tertentu. Suasana penuh makna begitu terasa ketika para siswa melakukan wukuf di Arafah, sembari mendengarkan nasihat dari para guru.

“Alhamdulillah seluruh siswa SMP IBS Ash-Shonhaji sangat antusias mengikuti kegiatan manasik haji yang juga menjadi ko-kurikuler di SMP IBS Ash-Shonhaji ini. Siswa pun sudah memiliki gambaran secara umum bagaimana rangkaian ibadah haji dan umrah beserta ketentuan fiqihnya, dibuktikan dengan test yang dilakukan setelah mengikuti manasik dengan mengisi LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik),” ucap Aldika.

Tak hanya menjadi pembelajaran praktik ibadah, kegiatan manasik ini juga menjadi sarana penanaman nilai-nilai spiritual, kedisiplinan, dan kebersamaan. Dalam proses pelaksanaannya, para peserta diajarkan pula untuk saling tolong-menolong dan menjaga kekompakan selama perjalanan haji.

Aldika berharap kedepannya para siswa dan siswi mampu membawa semangat manasik haji ini ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, bukan hanya dalam bentuk hafalan dan praktik ibadah, tetapi juga dalam sikap dan akhlak.

“Mudah-mudahan seluruh Siswa SMP IBS Ash-Shonhaji menjadi generasi yang unggul dalam ilmu dan amal. Dan semoga pemahamannya terkait haji dan umrah ini menjadi wasilah untuk kemudahan mereka menjadi dhuyufurrahman di hari kemudian. Aamiin,” tambah Aldika.

Kegiatan manasik haji di Sekolah Ash-Shonhaji pun tak hanya dirancang sebagai momen belajar semata, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta terhadap ajaran Islam dengan pendekatan yang menyenangkan. Melalui simulasi ini, para siswa tak lagi melihat ibadah haji sebagai sesuatu yang jauh atau rumit, melainkan sebagai ibadah yang bisa mereka pahami secara bertahap dengan semangat belajar dan pengalaman langsung.