"Where Faith Meets Future: Empowering the Next Generation of Leaders."

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN DALAM BINGKAI KEBERSAMAAN

Langkah kaki para petugas upacara terdengar tegas, seolah menggema bersama denyut sejarah bangsa. Saat bendera merah putih perlahan naik ke puncak tiang, suasana hening seketika menyelimuti halaman Pondok Pesantren Ash-Shonhaji, Jalan Terusan Pesantren, Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Di balik keheningan itu, ada rasa haru yang menyeruak, sebuah kesadaran bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati lahir dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.

Pagi itu Senin (18/08), halaman sekolah dipenuhi oleh siswa, guru, dan staf yang mengenakan seragam rapi. Bendera merah putih menghiasi setiap sudut, menambah khidmat suasana. Meski matahari mulai terasa terik, tidak ada satu pun siswa yang mengeluh. Justru wajah mereka tampak bersemangat, mengikuti setiap prosesi dengan penuh penghormatan.

Koordinator pelaksana upacara Muhammad Fakhri Anshori menjelaskan, agenda upacara ini diadakan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme Cinta Tanah Air yang selalu beriringan dengan doktrin para Ulama Nusantara bahwa Hubbul Wathan minal imaan. Tak hanya itu, Fakhri juga menambahkan agenda ini juga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan pembentukan karakter para santri.

“menumbuhkan rasa kebersamaan yang timbul dari interaksi sosial antara sesama dan tentu saja kolaborasi yang terjalin yang keduanya merupakan bagian dari Twenty One Century Soft Skill yang harus dimiliki oleh manusia yang hidup pada saat ini. Dan juga untuk membentuk karakter para santri agar bagaimana mereka menghargai setiap perjuangan para pejuang dengan cara mengisi kegiatan dapat mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan dengan kegiatan yang positif,” jelas Fakhri.

Usai seluruh prosesi upacara selesai, halaman pesantren segera dipenuhi keceriaan. Berbagai lomba khas 17 Agustus digelar untuk menyemarakkan suasana. Tawa riang santri terdengar saat mereka beradu cepat dalam lomba Rangking 1, bersorak penuh semangat saat sepak terong dimainkan oleh dua tim, hingga antusiasme saat mengikuti lomba estafet air yang menguji kekompakan. Bukan hanya sekadar permainan, setiap lomba menjadi media untuk menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.

Di balik meriahnya rangkaian acara, tentu tidak lepas dari tantangan yang dihadapi panitia. Fakhri menuturkan bahwa koordinasi menjadi kendala utama dalam persiapan.

“terdapat beberapa tahap persiapan dimulai dari perencanaan yang sifatnya umum, lalu diadakan beberapa kali pertemuan yang membicarakan kegiatan ini agar lebih mengerucut sehingga dapat dieksekusi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tantangannya mungkin bagaimana cara mengakomodir antara santri yang tinggal di pondok dan santri yang tidak tinggal di pondok karena memang secara kebiasaan, latar belakang dan perlaku yang beragam,” ungkap Fakhri.

Meski begitu, ia menyimpan harapan besar agar kegiatan peringatan kemerdekaan bisa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Banyak harapan yang tentunya diinginkan di masa depan. Namun yang pasti dengan kegiatan ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa kita adalah generasi yang mencintai Negara yang berlandaskan pada ajaran para Ulama. Kedepannya mudah mudahan kegiatan ini bisa menjadi sebuah budaya yang mana agar menjadi sebuah nilai positif sehingga tertanam pada diri setiap santri tentang nilai-nilai Nasionalisme untuk kehidupannya di masa depan. Terakhir tentunya dengan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk penguatan kredibilitas dan integritas lembaga pendidikan yang dinaungi oleh Yayasan Abna Ashonhaji. Dengan acara ini membuktikan bahwa lembaga ini memiliki nilai yang baik dalam penimplementasian tujuan pendidikan yang tercantum baik dalam ajaran agama maupun pembukaan Undang Undang Dasar 1945,” pungkasnya.